Secangkir Lautan #2

By Nayla Nuha - Juli 13, 2014



‘Bruk’
Sesuatu jatuh tepat mengenai kepalanya. Sera merintih kesakitan. Benda yang jatuh dari atas lemari keras sekali. Benda tersebut membuat Sera penasaran. Sebuah bingkai foto yang retak kacanya. Mungkin karena tadi terjatuh.
Sebuah foto usang, terpasang di pojok bingkai yang ukurannya lebih besar daripada foto hitam-putih itu. Fotonya samar, sudah lapuk dimakan waktu. Tapi ia tahu siapa laki-laki disana. Disampingnya ada seorang wanita dengan senyum begitu manis.
Ayahnya menghampirinya, mendengar Sera kesakitan dan benda yang jatuh cukup keras itu. Sera diam sambil memandangi Ayahnya yang begitu melihatnya merasa tidak ingin bertanya.
“Ra, ayo kemari.. dan bawa bingkai itu,”
Sera memegangnya erat dan hati-hati. Masih ada pecahan beling yang belum dibereskannya.
“Kau sudah dewasa rupanya, dan tidak sengaja pula foto itu jatuh,”
Sera tahu, ketika kecintaannya pada Ayahnya semakin besar, juga sebaliknya. Pasti ada banyak hal yang tidak bisa disembunyikan Sera pada ayahnya itu. Cepat lambat Ayahnya tahu, begitu pula dengan kata hatinya, yang sejak sore tadi ingin bertanya perihal Mamaknya.
“Itu Mamakmu,” Ayahnya membuka percakapan. Mala mini diluar hujan. Jadi tidak ada jadwal melaut malam ini.
Sera masih bungkam. Ia tahu intonasi Ayahnya belum selesai berbicara.
“dan Mamakmu, pergi meninggalkanmu…” Ada sorotan mata yang lain dimata Ayahnya. Tapi Sera tidak tahu apa artinya. Sera hanya bisa mempercayai Ayahnya sepenuhnya. Mamaknya pergi, bukan meninggal ataupun terusir. Tepatnya meninggalkan dirinya dan Ayahnya.
Sera tidak banyak bicara malam itu, Sera sempurna mendengarkan semua cerita Ayahnya tentang Mamak.
“…Lalu kenapa Ayah tidak mengejar Mamak? Memintanya pulang?” Tanya Sera.
Ayahnya diam sejenak, “Kau itu tak bisa diam Ra, sedikit-sedikit menangis, mengompol, Bapa tidak bisa kemana-mana,” 
Sera nyengir. Betapa merepotkannya ia dulu. Sera kemudian memeluk Ayahnya.
“Sera sayang Bapa, bagi Sera cukup Bapa selalu ada disamping Sera, Sera sudah merasa sangat bahagia,”
Ayahnya menyadari, sudah bertambah dewasa putrinya ini. Pberbicara, juga pandai mengamati.
“Bapa juga sayang sekali sama Sera. Ada satu hal tentang Mamak dan Bapa yang belum kuberitahu, tapi malam sudah larut. Kita tidur dulu,”
Lampu diruangan itu padam. Sera tidur nyenyak dipelukan Ayahnya.  Ia tidak lagi terganggu dengan baying-bayang Mamaknya. Setidaknya setelah mendengar cerita Ayahnya, ia tahu, Mamaknya bukan orang yang baik. Meninggalkannya saat  bayi dan tidak pernah mencarinya. Padahal disini, ditempatnya lahir dan dibesarkan, disinilah tempat paling indah yang Sera tahu. Tempat paling indah untuk mengungkapkan semuanya, pada deburan ombak dan luasnya lautan.
***
Senja menutup hari. Sera masih memegang erat rantang nasi untuk membekali Ayahnya berlaut. Padahal Sera tahu, Ayahnya tidak akan sempat membuka bekalnya. Mana bisa santai ketika menangkap ikan-ikan pada saat gelap ditengah laut?
Tapi hari ini ulangtahun Ayahnya. Sebenarnya ia tidak tahu jelas apakah yang tertanggal di foto dalam bingkai yang rusak itu benar ulangtahun Ayahnya atau tidak.
“Hei, bisa tolong ambilkan kertasku?” Seseorag berujar padanya. Ia menoleh dengan malas. Seorang laki-laki berbaju rapi dan membawa map. Sera mencari-cari kertas itu. Ya, terbawa angin sampai ada di kakinya.
“Oh,” Sera mengambilnya kemudian memberikannya dengan malas.
“Terimakasih,” Laki-laki itu tersenyum. Dari logatnya Sera tahu dia bukan anak pesisir. Suaranya tidak lantang. Bahkan menjadi menjijkkan.
“Sedang menikmati jingga?” Sekarang laki-laki itu duduk disampingnya. Duduk diatas batang pohon kelapa yang tidak sengaja ambruk ketika badai.
“Ini namanya senja,” Jawab Sera.
Laki-laki itu tertawa, “Ya ya.. kutahu kamu tidak tahu senja,”
Sera menoleh. Kesal. Siapa laki-laki ini, datang, berujar padanya, dan ia sok tahu mengira Sera tidak tahu matahari terbenam itu disebut senja.
“Saya Tio, kamu?” Laki-laki itu menyodorkan tangannya. Ia memperkenalkan diri dengan sopan. Bahasa Indonesianya baik. Sera menjadi salah tingkah. Sudah lama sekali tidak ada seseorang yang mengajaknya berkenalan. Bahkan mengobrol. Semua teman-temannya sibuk dengan sekolahnya, sibuk bermain disekolah, ada yang pergi meninggalkan pesisir karena menikah. Dan sekarang? Sera hanya sering berinteraksi dengan ibu-ibu yang masih setia menunggu suaminya pulang membawa tangkapan. Kadang membantu mengukur hasil tangkapan.
“Sera, panggil saja Sera,” mereka berjabat tangan. 
“Sedang liburan?” Sera bertanya.
“Tidak, sebentar lagi saya juga kembali. Cuma ingin melihat senja. Maklum, orang baru yang dipindah kerja ke Sulawesi. Kebetulan sekali, tempat kerjaku dekat tepian pantai begini haha..”
Sera mengangguk. Ingin bertanya lagi. Sepertinya ia mulai tertarik dengan orang baru ini. Orang baru yang mengajaknya berkenalan ditepian pantai.
“..Tinggal disini sudah lama?” Tio bertanya.
“Sejak kulahir,” Sera menjawab bangga.
Tio menunjuk rantang nasi dipangkuan Sera.
“Ini untuk Bapa, sebentar lagi dia akan melaut,”
Tio mengangguk, “Anak yang baik…” Tio nyengir sambil menoleh pada Sera.
“Wah sudah waktunya saya pulang! Semoga kita bertemu lagi besok ya Sera! Salam untuk Bapa, dan salam untuk lautan malam hari” Tio melihat jam tangannya dan bergegas.
Sera mencoba memahami kalimat terakhir Tio. Salam untuk lautan. Emangnya lautan bisa disalami? Sera juga beranjak. Di kejauhan Ayahnya datang membawa jaring-jaring dan mempersiapkan perahu.
“Pa, hari ini tidak akan ada badai kan? Anginnya lumayan kencang,”
“Tidak apa-apa. Semoga Cuma angina, bukan badai,”
Sera menatap lamat-lamat wajah Ayahnya. Wajahnya sudah mulai menua, ada banyak kerutan yang tidak bisa lagi disembunyikan. Kulit ayahnya yang legam terbakar matahari, dan sorotan mata yang begitu lelah. Kalau saja Sera bisa menggantikan Ayahnya melaut, ia akan melarang Ayahnya untuk bekerja.
Ayahnya mengelus kepalanya. Putrinya sudah jadi gadis cantik yang kuat. Tingginya hampir mengalahkannya, dan lagi Sera semakin menyayangi Ayahnya melebihi siapapun.
“Sera akan tunggu Bapa nanti pagi,” Sera ingin mengatakan itu. Entah kenapa. Padahal Sera memang akan selalu menunggu Ayahnya pulang. Kapanpun dan bagaimanapun.
***

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar