Jalan-Jalan: Buku #30DaysWriting

by - Januari 20, 2015

"Om tahu tidak, apakah itu yang jauh dimata tapi dekat di hati?" Wajah bulat Anna menahan tawa-ia baru tahu tebak-tebakan itu dari Elsa sebenarnya.

Ambo Uleng menggeleng. Mengeluh dalam hati, kenapa gadis kecil ini juga membuatnya merasa disindir. Jauh dimata tapi dekat di hati?

"Tahu tidak Om?" Anna masih menahan tawa.
"Nyerah ya, Om? Baiklah, aku beri tahu. Jauh di mata tapi dekat di hati itu adalah udel atau pusar diperut" bahkan, Elsa disebelah Anna ikut tertawa.

Saya juga tertawa terbahak. Di malam yang sudah sunyi ini.
Sudah hampir 2 malam saya membuka lembar-lembar novel yang sudah lama dibeli. Karangan penulis terkenal, salah satu penulis kesukaan saya.

Kali ini, lagu Bang Sweta - Bahagia Merindukanmu terasa pas untuk menemani membaca buku ini. Menutup pintu kamar dan mulailah perjalanan buku dimulai. Sepertinya lagunya lebih cocok untuk Ambo Uleng.

Seperti sungguhan berada diatas kapal dan memandang lautan. Mungkin rasanya luar biasa ya, memandang lautan, menikmati kamar di kabin kapal dan bisa menikmati pagi, siang, malam dengan suara ombak. Haha..

Dan yang istimewa dari seorang penulis dalam novel-novel fiksi -karena saya cuma suka baca buku fiksi-, mereka selalu berhasil membawa kita pada suasana buku. Di hutan, perjalanan metropolitan, bahkan sekarang di lautan, di dalam kapal yang melakukan perjalanan 9 bulan. Keren!

Kadangkala sampai lupa, ketika diperjalanan, lupa kenyataan sudah membawa kita ke tempat tujuan, ketika malam seharusnya sudah memejamkan mata malah terus menjadi candu membuka halaman demi halaman karena penasaran untuk cerita-cerita yang lain.

Makanya, kadangkala inilah hal yang ditakutkan ketika membaca buku. Menjadi candu. Ketika waktu benar menyisakan luang, dua-tiga buku bisa mengalahkan waktu. Repotnya lagi ketika isi buku berhasil menyentuh perasaan. Tisu bisa habis hanya karena membaca. Atau ada umpatan heran kenapa bisa tertawa terbahak-bahak sendirian kaya tadi. Haha

Dari karakteristik, penulis yang novelnya sedang saya baca, beliau selalu bisa membuat karakter anak-anak menjadi hidup. Sepertinya ia selalu hidup jadi anak-anak. Berpikiran sederhana, mengasyikan dan pastinya lucu. Juga cerita-cerita yang menggambarkan Indonesia nya kita. Detailnya berbagai suku yang dijelaskan.

Membaca novel ini, seperti membaca sejarah juga. Sejarah yang tidak membosankan dari daerah Indonesia timur sana.

Ah ini membuat saya jadi ingin membaca lagi,
Oh iya ngomong-ngomong dua anak yang selalu diceritakan di novel ini. Anna dan Elsa. Saya baru ngeh dihalaman 100an, kaya tokoh film Frozen ya~

Hey, sepertinya saya harus pula melirik kembali tulisan-tulisan yang terbengkelai. Atau mungkin perlu membaca-baca lanjutan cerita ini di tempat berbeda -selain malam di rumah-

Saya putuskan berhenti di halaman ke-200. Pas sekali masuk bab baru. Sudah tidak tahan untuk menulis tentang buku dan penulis ini.

Setiap selesai membaca, saya jadi semangat menulis. Seketika ingat juga dengan tulisan-tulisan yang digantungin sampai kering. Sampai ide ceritanya hilang entah kemana. Dan sampai sekarang pun gak tau gaya menulis saya itu seperti apa. Hanya sering iri lihat tetangga sebelah produktif, ada juga yang diam-diam ptoduktif dan tiba2 melesat dengan cerita yang luar biasa.

*Ayo dong, kalian keluar dari persembunyian.. biar saya bisa baca lagi :)*

/woah sudah banyak/
Oke kita akhiri saja.
Mungkin saya akan bisa menyelesaikan tulisan saya yang sore tadi diputuskan untuk jadi draft blog.

*Psst... Buku yang sedang saya baca : Rindu - Tere Liye*

#08
#Bogor; Malam sudah teramat dingin

You May Also Like

0 komentar

INSTAGRAM @ALYANAYLA