Ramadhan Kini,

By Nayla Nuha - Juli 09, 2015

Suatu sore dalam sebuah perjalanan, diantara banyaknya bangku panjang kereta, seorang teman berkata, disela-sela obrolan kami yang kadang ngalor ngidul,
"Semakin dewasa kita, kayanya bulan puasa jadi kaya biasa aja,"

saya mengerutkan dahi, rada tidak mengerti
"Iya, nih ya waktu kita kecil mah ya, puasa tuh seneng gitu, nanti dapet hadiahlah atau dapet uanglah"

Saya tersenyum, "Iyalah, itu kan masih kecil, puasanya masih pakek embel-embel"

"Iya sih,"

Saya melanjutkan, "Tapi yang terpenting, ibadah Ramadhannya, lebih baik dari bulan ramadhan sebelumnya,"

Sekarang giliran dia yang diam sambil sedikit mengangguk. 

Ramadhan kini, yang euforianya kurang meriah, yang tiba-tiba merindukan masa kecil dengan banyaknya pawai Ramadhan, targetan Ramadhan dan kegiatan-kegiatan yang dibuat mengasyikkan. Kesadaran menimba pahala lebih banyak pun sekarang jadi target yang tidak lagi luar biasa.

Sedih. Lihat banyak orang-orang, yang dulu masa kecilnya begitu antusias menjalankan Ramadhan, sekarang karena kesibukan-kesibukan yang membuatnya merasa bertanggung jawab lebih besar, malah mengabaikan hal-hal penting. Layaknya menjadi sombong, tak ingat betapa banyak nikmat sehat dan nikmat umur yang diberikan Allah. Padahal ketika seseorang diberikan umur panjang, secara tidak langsung ia harus banyak bersyukur dan beribadah.

Umur panjang bisa jadi adalah sebuah kesempatan; kesempatan untuk lebih banyak beramal sholeh, atau bisa jadi adalah sebuah waktu yang menurutNya ibadahmu belum cukup untuk bisa masuk ke JannahNya

Ramadhan pun berlalu begitu cepat. Tidak terasa ya?
Bahkan saya sempat bertanya-tanya sendiri, kerap kali Ramadhan tiba, stasiun televisi menjadi media bahan-bahan religi, dari tayangan santap sahur sampai bada' tarawih. Mendatangkan wajah-wajah tokoh religius baru, tapi yang sering dibahas adalah bahasan yang sama. Padahal pembawa acara -dan pasti kru televisi- adalah orang-orang yang hampir sama dari tahun ke tahun. Kenapa selalu membahas bahasan yang sama melulu?
Terbukti mereka hanya menjadikan Ramadhan momentum religi tanpa mengambil hikmah dan pelajaran berharga untuk hari-hari kedepannya. Esoknya, mereka boleh lupa, mereka kembali pada kebiasaan-kebiasaan lama. Ah dunia,

Jika bangsa Barat sana menjadikan Tahun baru masehi yang (selalu) jatuh pada tanggal 1 Januari, berbeda dengan umat Islam, layaknya Tahun baru masehi, seharusnya Ramadhan menjadi bulan yang setelahnya mempunyai banyak targetan baru, motivasi baru, dan pelajaran-pelajaran baru.

Disini, malah Ramadhan bukanlah bulan yang esoknya merubah manusia menjadi lebih baik. Ya, setelah Hari Raya yang dimaknai sebagai hari kebebasan usai, mereka tetap menjadi dirinya (yang dulu).

10 Hari terakhir Ramadhan, mari maksimalkan ibadah :)
Semoga dijauhkan dari hal-hal yang membuat hati merasa malas,
dan semoga juga ada banyak hati-hati yang dikuatkan :""


  • Share:

You Might Also Like

0 komentar