Penulis

By Nayla Nuha - Juli 28, 2015

Hampir saya selalu ingin menulis ini.
Tapi cuma jadi draft, yang ketika dicari hilang.

Penulis.
Cita-cita entah ke berapa setelah ingin jadi astronot ketika duduk di sekolah dasar.

Saya suka menulis.
Menulis apa saja yang sedang saya pikirkan, corat-coret sampai menulis ulang cerita yang berseliweran di otak saya.

Hampir sebagian waktu di sekolah dasar saya habiskan untuk bercengkrama dengan buku dan pensil. Lupa caranya bermain selain main bola bekel dan congklak.

Katanya. Mungkin saya pernah mendengar ini suatu waktu yang membuat saya suka menulis,
"Jika kamu tidak suka bercerita langsung, tulislah apapun yang kamu rasakan"

Karenanya, sampai sekarang saya masih beranggapan bahwa semua orang yang menulis dan menerbitkan buku, adalah orang-orang yang tidak leluasa berbicara langsung, bercerita langsung atau berkomunikasi langsung dengan orang banyak.

Tapi, ternyata saya salah, sejak dulu saya menginginkan tulisan saya diterbitkan, tapi malu untuk dibaca orang, malu untuk mengungkapkan langsung apa yang hendak saya sampaikan, malu untuk saling berdiskusi dan menikmati membaca sebuah karya sendirian, mengamati sendirian tanpa bertanya pada yang lain.

Lewat kacamata yang lain, saya akhirnya melihat, betapa penulis-penulis ternama, best seller lahir bukan dari orang-orang yang bermain dengan imajinasinya sendiri, mereka keluar dari kotak keterbatasan, meleburkan imajinasi dunianya dengan dunia yang lain, mereka lahir tidak dari sastrawan yang pendiam dan pemalu, mereka lahir dari orang-orang yang senang menjalin komunikasi dengan banyak orang, mereka lahir dari pertanyaan-pertanyaan kritis yang mereka tanyakan kepada orang lain, mereka lahir dari otak matematika, fisika, ilmuwan, politisi, kritikus, musisi dan orang-orang yang membiarkan dirinya berbaur.

bukan lahir dari bilik kamar yang tengah bermain dengan dunia sendiri.
Mereka banyak berdiskusi, berpergian mencari orang-orang yang menginspirasi, mencari orang-orang yang sejalan dan menciptakan obrolan yang kritis. Merek bukan orang yang sulit mengungkapkan apa yang dirasakan, seperti saya.

Saya kira menulis itu sekedar menumpahkan apa yang tidak bisa ditumpahkan. Dan saya rasa jalan itu bisa membuat tulisan bisa di publikasikan. Sebagai ungkapan hati, perasaan hati dan sebagai kutukan atas dunia yang telah saya bangun sejak lama.

Oh, penulis itu harus bisa banyak berkomunikasi, membangun jaringan, berpergian, menjadi wartawan, menyatukan imajinasi dan kenyataan.

Hebat ya,
saya selalu kagum dengan orang-orang multitalent seperti ini,
Semoga kelak, di usia yang tidak lagi kembali muda, akan bisa jadi 'penulis'

/hendak bersungguh-sungguh/

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar