Masih tentangmu, selamat jalan...

by - September 27, 2014

Hampir 2 hari kepergianmu.
Aku masih mencoba untuk menulis semuanya tentangmu.
Aku masih mencoba membuka mata saat terbangun, bahwa hari esok ternyata akan tetap berjalan. Tanpa kamu.

di jalan-jalan, di tepian jendela, atau kala menunggu sesuatu tanpa seseorang, tanpa pesan pribadi, tanpa pekerjaan-pekerjaan lain yang sebenarnya tengah menunggu.
Aku memukul-mukul wajahku sendiri. Kamu sudah tidak ada.
Bahkan di sujud-sujud do'a kenapa wajahmu yang pertama terbayangkan.

Kemarin, saat terakhir kali aku melihatmu, kamu begitu cantik, seperti melepaskan semuanya. Rasa sakit, rasa kecewa dan rasa bahagia.
Melihatmu terbaring disana, aku ingin sekali memelukmu, berharap kamu hanya tertidur sesaat, lalu terbangun sambil berkata "Aku gakpapa,"

Lihat, begitu banyak orang yang menangis, tak kuasa membendung kesedihan. Keluargamu, teman-teman sekolahmu, teman-teman sekelasmu, teman-teman sejurusan, teman-teman fakultas, teman-teman mainmu, teman-teman organisasimu. Kamu yang tidak pernah memilih-milih menyayangi siapa, dan kamu memang disayangi semua orang.

Tapi, diatas itu, kamu lebih menyayangiNya, sampai kamu berhasil untuk bertemu lebih dulu denganNya.

Masih teringat jelas pertama kali kita dekat. Kita saling bicara karena sering bertemu dalam satu organisasi yang sama. Lalu, kamu bercerita tentang masalah teman-teman kita, yang pada akhirnya kita menjadi saling dekat.

Kita sering berbicara tentang masa depan demokrasi kampus kita. Kamu begitu menggebu, bersemangat dan selalu beranalisis. Bercerita tentang seseorang yang diam-diam kamu kagumi. Sampai seringkali aku kena marah. Marah yang aneh. Lalu kamu, yang selalu merendah, padahal kamu benar-benar mengikuti jejak abimu, selalu berjuang di kampus.

Kamu yang selalu jadi peganganku di saat tinggal kita berdua yang tersisa. Aku selalu mengakui kan, tanpa kamu aku tidak ada apa-apanya. Tidak pernah jadi apa-apa.
Pertama kali, kamu bergurau, untuk membuatkanmu gambar. Gambar kamu dan aku. Juga aku yang selalu ingat, warna kesukaanmu: kuning.
Aku bahagia sekali, karena orang yang pertama kuhadiahkan gambarku adalah kamu.

16 Februari,
ternyata, sebelum aku genap mengumpulkan uang untuk membeli bingkisan yang akan kuhadiahkan kepada beberapa teman -termasuk kamu-, kamu sudah menerima hadiah yang lebih indah. Ah, cuma cangkir itu yang pernah kuberikan. Mungkin masih kau simpan rapi dikamarmu.

Hm, aku perlu menghela nafasku beberapa kali di setiap jeda. Yang selalu terselipkan kamu.
Rasanya aku masih seperti akan menungguimu datang. Dengan riang, yang selalu datang diakhir pelajaran akan dimulai, yang ada dengan cecengesan lalu duduk sambil mengipaskan diri, yang sering nyeletuk kala pelajaran, atau yang tiba-tiba sering hilang karena harus kejar-kejaran sama deadline.

Kita sering menghabiskan malam bersama, di tempat yang jauh. Yang sering mengingatkanku akan keluarga disana. duduk didepan halaman rumah sambil menatap gemerlap lampu-lampu. Bersenda gurau atau sekedar diam sambil sesekali takjub dengan malam. Kamu tidak pernah merasa dingin kan?

Ah, juga pada malam-malam yang mengingatkanku sebuah cerita. Kukira mujahidah itu tidak ada di kalangan kita. Yang menyerahkan seluruh jiwanya untuk dakwah sampai ia sakit. Tapi malah ternyata kamu yang mengikutinya. Persis seperti cerita yang membuatku merinding. Kamu adalah orang yang paling amanah yang kukenal. Kamu selalu menyempatkan hadir meski banyak masalah lain yang harus diselesaikan, dan kamu juga selalu memaksaku ikut dengan segala pengorbananmu.

Kamu sering tidak tidur saat kita ikut dalam kepanitiaan. Merangkap semua jabatan demi kelancaran acara. Kamu yang maju duluan ke depan, lalu disaat semua orang ingin memujimu, kamu justru mundur kebelakang. Pergi. Tidak ingin dielu-elukan atau dipuji berlebihan.

dan kamu selalu menganggapku sebagai sahabatmu. Walaupun kadang aku cemburu dengan teman-teman yang selalu bersamamu. Tapi justru setelah aku memaknainya, aku memang bukan teman biasa dan sahabat biasa seperti yang mereka yang sering bersamamu.

Kamu bisa mendapatkan tempat dimana saja. Dikelas dengan teman-temanmu, di organisasi dengan mereka, dan denganku. Disini. Jauh di dalam hati ini.

Mereka ternyata tidak tahu banyak tentang aktivitas keluargamu. Tapi aku tahu. Mereka tidak tahu persis apa yang sedang kamu perjuangkan untuk dilupakan. Tapi aku tahu. Mereka tidak tahu persis apa yang ingin kau capai dari banyaknya berlelah-lelah ini. Tapi aku tahu. Mereka tidak tahu makna apa yang sering kudapat dari setiap tulisan-tulisanmu.

Hey, kita begitu dekat ya?
Bahkan untuk urusan yang sama-sama sering kita sesali, kita takutkan, yang sedang kita jalani, kamu hanya bercerita kepadaku. Juga pada seorang kakak yang selalu kita kagumi ke-shalihannya.

Sudah banyak menulis ini, aku masih membayangkan akan bertemu kamu. Di ujung pintu saat kita masuk kuliah. Tapi itu tidak akan mungkin lagi bukan?
Aku jadi tidak bisa membaca jelas layar laptopku ini.
Ah, aku sebenarnya lelah menangis lagi, ingin aku panggil namamu, seperti ngobrol biasa. Tapi mengingat itu aku semakin ingin menangis.
Menangisi kamu terlalu lama tidak akan pernah jadi membaik, bahkan mungkin akan memberatkanmu. Ya, tolong... aku juga tidak ingin menangis.





Ketika aku membuka sosial media, pasti yang kulihat cerita orang-orang tentangmu. Kamu begitu berarti di hati mereka. Makanya, dulu kamu jangan pernah bilang mau pergi jauh dan memulai hidup baru. Kita sudah benar-benar kehilangan kamu sekarang.
Melihatnya, aku semakin ingat. Semakin ingat, semakin aku ingin menulis setiap detik yang pernah kita habiskan.

Ah, aku tidak pernah kehilangan teman sedalam ini.
Waktu kamu masih sakit, kamu masih sempat mengingatkan aku. Kata-kata yang membuatku tidak sanggup membalasnya. Kamu tidak ingin membuat aku jadi kamu yang sekarang. Kamu mau aku terus maju tanpa kamu.

Tapi mengingatnya aku baru menyadari. Aku tidak bisa apa-apa tanpa kamu. Lihat, sekarang orang-orang disekelilingku sibuk membicarakan jalan-jalan, tugas dan mengajar. Mereka tidak lagi peduli acara-acara dikampus.

Pasti kamu akan sedih.
Aku pun juga merasa sedih, ternyata setelah kepergianmu yang tiba-tiba, aku masih diam disini. Mengingatmu lalu menangisimu.

Ya, aku akan mengumpulkan kekuatan disetiap doaku, yang sekarang selalu ada doa untukmu. Doa untuk orang-orang yang sangat kehilangan kamu.
Aku harus berusaha untuk bisa berdiri tanpa kamu.
Suatu saat, aku akan bilang padamu, bahwa sudah kutemukan kebahagiaanku disini, seperti kau yang berbahagia disana :')


Hey, aku belum sempat mengucapkan terimakasih.
Terimakasih jek, sudah mengajarkan banyak hal, terimakasih sudah menemani ketika lelah ini menghampiri. Terimakasih selalu menganggapku berharga mengenal kamu. Terimakasih untuk nasihat-nasihat yang kadang menjadi konyol bila kita lanjutkan :')

You May Also Like

0 komentar

INSTAGRAM @ALYANAYLA