Hujan dan Siang

By Nayla Nuha - Maret 28, 2017

dalam aroma hujan di siang
dibalik jendela yang perlahan-perlahan penuh menyiratkan pola rintik-rintik
ada pertanyaan berulang-ulang yang dahulu pernah kutanyakan setiap waktu yang kupikir sedang berhenti

dan ternyata tanyaku sampai saat ini, belum pernah punya jawabannya
Padahal kelak, setelah akhirnya kuputuskan hati untuk merajutnya kembali, dengan seribu pernyataan yang sudah susah payah kuganti dengan kata-kata 'mampu dan bisa', selangkah ke depan aku akan bertemu dengannya setiap hari, sepanjang waktu

Sejenak ingin mengeluh pada waktu tunggu. Mengapa waktu tunggu kadang begitu lama sekali.

Lalu pertanyaan-pertanyaan itu muncul lagi, seperti hendak menumbangkan keyakinan dan kekuatan. Ingin mengutuk diri sendiri atas pertanyaan-pertanyaan yang kadang memilukan tanpa jawaban.

Jangan kembali pada titik menyerah lagi, karena sejatinya perjalanan pertama sudah hampir terlihat.

dan jangan terjebak dalam pertanyaan yang berputar-putar yang menyebalkan ini.

Ketidaktahuan kadang membuat ingin mengutuk diri dan menangis.
Tapi waktu mungkin akan menghapusnya perlahan.

Ah mungkin kamu juga butuh waktu?
kadangpula kuingin memaksamu, dan berteriak di depanmu : atasi sendiri masalahmu!
sebab kadang aku memang tak dibutuhkan.

kamu butuh waktu, tapi sayangnya waktu tidak pernah membutuhkanmu. 

api bercampur air, 
Mungkin hujan yang deras serta berangin bisa mewakili itu.
Begitulah. Sedih bercampur marah.

  • Share:

You Might Also Like

0 komentar