"Ramaaaa" suara seorang ibu dikejauhan. Aku tidak terlalu memperdulikan, mungkin ibu itu sedang memanggil anak-anak lain. Tapi, tidak ada anak lain selain mereka berdua. Kamu menoleh ke belakang, lalu berseru.
"Hey, jadi namamu itu Lama atau Rama?" aku membuatnya menoleh lagi padaku.
Kamu nyengir sambil berusaha bilang, "Namaku Lama.." ah, terdengar sama saja, membuat kami tertawa.
---------
Aku memicingkan pandangan pada hamparan lautan yang ombaknya beraturan. Ada kapal-kapal kecil yang hendak menepi. Mungkin ini masih terlalu pagi untuk menikmati matahari di tepi lautan. Aku tidak pernah minat untuk berenang, melebur bersama ombaknya. Lebih tenang begini, duduk diatas batu, berjalan di darmaga dan menikmati angin. Sesekali aku menggambar diatas buku sketsaku. Tapi, setiap kali menggambar yang kuingat akhir-akhir ini malah Rama.
Sudah 15 tahun rupanya. Tak terasa ya, aku mampu bertahan dengan perasaan ini 15 tahun lamanya. Harusnya diusiaku sekarang aku sudah punya kesibukan mengurusi rumah tangga atau seorang anak kecil? Ah, itu cuma mimpi yang belum terlaksana. Mungkin sehabis pulang dari perjalanan ini aku akan menyetujui pertunangan yang ditawarkan ibu. Atau malah tidak.
Hari ini ulang tahun nenek. Aku pergi kesini, kuburan nenek yang dipindah dekat lautan. Sekedar ingin mengucap selamat ulang tahun. Membawakannya bunga kesukaannya, meski tak bisa lagi kita petik di bukit indah itu. Untungnya kutemui sebuah toko bunga yang antik yang menjual bunga kesukaan nenek. Kuburan nenek berganti-ganti tahun tidak lagi pernah terawat. Apakah kamu tidak pernah mengunjunginya? Barang satu tahun sekali. Aku harus menghabiskan sedikit waktuku untuk membersihkan ini. Tidak jadi terburu-buru, bahkan akhirnya aku memutuskan untuk menikmati seharian penuh di kota ini. Barangkali aku bisa melupakanmu.
"Rama, kamu tahu kenapa nenek menyukai bunga itu?" Nenek bertanya diatas kursinya sambil meletakkan tongkatnya disamping jendela. Jendela yang sering ditatap Nenek. Menatap kami, manatap bukit yang penuh dengan bunga-bunga juga menatap matahari pagi.
Kamu menggeleng. Aku mendengar pertanyaan nenek sambil mengganti air pot.
Dulu kami sangat hati-hati memegang pot nenek. Besar, takut pecah. Tapi nenek tidak pernah melarang kami untuk menyentuhkan, hanya saja nenek mewanti-wanti harus hati-hati.
".. Karena bunga itu hadiah pertama kakek kepada nenek"
Kamu takjub, lalu menoleh kearahku, memandang bunga untuk nenek sambil tersenyum manis. Apa maksudnya? Aku malah tersipu dan cepat-cepat mengambil bunganya untuk kutaruh di pot.
Nenek tidak lagi bisa berjalan, ia sudah amat tua. Terlebih ketika Kakek pergi meninggalkannya 3 tahun silam. Aku mendengar ceritamu setiap kali kita bertemu. Untuk itu aku selalu menyukai bunga yang kucari berdua, cerita-cerita nenek dan Kamu.
Tapi ada satu hal yang membuat semuanya berubah. Kebakaran. Kita berdua ada di tempat kejadian waktu itu. Ada sebuah rumah kecil yang menjual makanan-makanan ringan, mereka sebut itu Cafe. Pemiliknya adalah seorang pendatang dari Belanda yang akhirnya memutuskan untuk tinggal dan menetap di Indonesia. Kita tahu betul siapa laki-laki Belanda itu, karena Tante Ter, nama lengkapnya Tante Terra adalah istri dari Laki-laki Belanda yang kami panggil Om Pad. Suatu siang mereka bertengkar hebat, ketika sedang memasak Barbeque di depan rumah kecil mereka. Disana ada aku dan kamu. Kita sedang menunggu makan siang bersama sebagai hadiah ulangtahun pernikahan mereka. Mereka belum punya anak ataupun sanak saudara.
Aku tidak tahu persis apa yang terjadi, yang kuingat, kamu menarik tanganku untuk bangun dari kursi kayu berwarna putih nan indah itu. Ada api yang menjalar dari kompor yang sedang dipanaskan. Aku tidak sengaja menyenggol sesuatu persis di sebelahku karena kaget. Kontan ingin aku perbaiki barang yang kusandung, kamu melarangku, menyuruhku cepat pergi. Akhirnya langkah kakimu maju semakin jauh dariku. Mungkin kamu takut, dan mungkin aku tidak menyadarinya.
Tante Ter berteriak histeris, setelah tahu yang kusenggol sampai tumpah dan mengalir jauh adalah drigen minyak tanah. Om Pad segera menarikku, membiarkan minyak itu mengalir sampai tengah-tengah bukit. Sejenak aku menarik napas, tanganku panas, udara disekitarku panas. Aku Cuma mendengar Tante Pad menangis sambil mengatakan, “I’m Sorry dear, I’m sorry” dan Om Pad yang mengumpat diri seraya berlari menggendongku.
Semua terasa begitu cepat. Aku bangun dan mendapatimu duduk disampingku. Sambil menangis dipangkuan ibumu. Ada ibuku yang berseru sambil menangis. Aku mendapati semuanya disini. Kecuali Om Pad.
Dari dalam aku mendengar ayahku setengah berbisik jengkel. Mungkin dengan Om Pad dan para bapak lainnya. Setelah itu aku tidak pernah lagi melihat Om Pad dan Tante Ter. Juga ibu melarangku untuk bermain di bukit lagi.
Setelah tahun berganti tahun, ketika kita mulai beranjak dewasa. Bukit sudah terlupakan dan Nenek sudah menyusul Kakek dengan bahagia. Kita menjadi berjarak. Tidak ada cerita bukit pun bunga, dan aku mendapati pesan dari Ibu bahwa kamu akan pergi. Tanpa pamit. Sudah, selebihnya aku menenggelamkanmu dalam ingatan-ingatan yang sedang kukunci erat. Pada saatnya aku berani membukanya lagi.
Mungkin sekedar rasa-rasaku
atau terkaan-terkaan yang seharusnya tidak kukatakan
ya, ini mungkin sekedar ketidaktahuaan
tentang jarak kita yang semakin berjarak
aku seperti tidak memahamimu,
ada dinding yang sedang kau bangun perlahan-lahan disampingku..
apakah aku ini benar-benar tidak pantas, untuk sekedar bertanya,
kenapa?
#Februari 2014,
Maaf, saya sering tak sadar menyakiti perasaan. Mungkin saya terlalu egois.. ya..
/ ada mimpi yg seperti nyata. Semoga menyesakkannya cuma di mimpi. Sungguh semalam aku tidak bisa tidur nyenyak. Ada sesuatu yg dipaksakan harus selesai. Tapi juga jadi menunggu satu jam sampai akhrnya mata memasrahkan diri untuk terpejam, melihat mimpi..
Hari ini saya mencoba menikmati hidup di hari ini. Mulai dari keliru membuat oprec, lalu berlari bersama hujan, menunggu kendaraan kotak ditengah kemacetan kota yang katanya nan asri dan sejuk, mengedit banner ditengah kejenuhan jalanan, menikmati angin kendaraan yang dingin, sampai pasrah pada kotak-kotak digit jam yang terus berjalan.
Kemudian saya kena absen, walau masuk kelas. Kemudian beribu-ribu tanya yg tersimpan seperti hilang karena banyak suara-suara dan orang-orang. Ingin menikmati hidup dan mengganggap biasa saja ternyata tidak mudah ya..
Rasanya saya mau acuh tak acuh pada kehendak hati sendiri, tapi tidak bisa. Sore ini saya jengkel, entahlah.. Menjadi benci pada orang-orang yang takut pada aturan manusia dan menyusahkan diri. Ah, biarlah, saya hanya cukup untuk tidak peduli pada pemikiran-pemikiran liar yang tak pernah dianggap wajar ini.
dan akhirnya saya mengerti. Saya memang akan terus dianggap seperti ini; tidak punya peran, tidak pernah punya pengaruh, dan tidak ada yg percaya pada jalan-jalan saya. Pada akhirnya tidak dihargai dan yah.. selebihnya, terimalah diri dihadapan orang-orang yg terlihat egois haha
dan ditengah-tengah kejengkelan ini, saya menemukan link ini. Judulnya abaikan saja, mungkin bisa diganti jadi 'pasangan hidup'
http//kaskus.co.id/post/530ace57a4cb17e9228b4819#post530ace57a4cb17e9228b4819
Walaupun ini cuma opini si kaskuser, dalam banyak hal saya membenarkan. Tapi sayangnya saya gapernah bisa dapet gelar Desain Grafis sungguhan.
Dan saya sedang berusaha untuk bungkam. Melatih diri untuk mematok kritik yg tidak menjatuhkan. Karena jujur, saya belum banyak belajar beretika, atau mengeluarkan pendapat haha -memalukan.. padahal kalau kritik yg langsung dikerjakan saat kerjaan orang lain jelek itu lebih menyakitkan ya.. dan menjatuhkan mental mereka...
Oke, selamat hari selasa!
Saya masih ingin mencari celah penghilang bad mood ini. Semoga teman sekamar ga bikin bad mood juga .-.
Saya duduk dibawah, lesehan dengan kaki menekuk. Duduk sambil senderan penyangga kursi dan disamping kaca pintu yang besar itu. Lalu saya mengeluarkan sebuah buku dan menyalakan lagu *karena lagu yang disetel lagu alay ._.
Saya mulai lagi membaca, halaman 8 dari novel setebal 500 halaman: Partikel.
Akhirnya saya berhasil membuka novel ini setelah 3 hari ada ditangan, dan dibawa-bawa kemana pun. Kenapa novel ini hidup? Karena penulisnya masih hidup /plak *bukan~ Karena novel-novel Dee isinya emang hidup semua. Partikel adalah serial lanjutan dari Petir. Setelah Petir sempurna membawa dunia saya pada dunia sains fisika-listrik dan keanehan macam dunia-dunia gaib, Partikel membawa saya pada dunia sains-biologi. Percakapan blasteran, percakapan ilmiah, percakapan-percakapan agama, juga tulisan-tulisan ilmiah macam nama latin tanaman dan sejenisnya.
Yang tidak pernah bisa dihindari itu, adalah tidak menyadarinya halaman yang sudah dibaca. Tahu-tahu sudah sampai halaman 300-an, dan tahu-tahu saya baru nyadar kalau saya hanya sedang membaca. Perjalanan pulang itu seperti membawa saya jalan-jalan. Melihat Zarah, melihat Ayah Zarah yang dianggapnya Dewa, Melihat Bukit Jambul, ataupun membayangkan dimensi lain sejenis alien dan aliran-aliran ateisme. Saya jadi tahu betul, bagaimana alur pemikiran Dee, yang katanya dia sudah banyak melalang buana menghampiri berbagai agama, saya juga gak tau sekarag beliau agamanya apa. Tapi yang pasti, dalam kedua novel serialnya yang saya baca dan sedang dibaca, ia memasukkan macam agama dalam alurnya. *eh kok jadi kaya ngebedah novel -_-
Tepat sekali, pulang ke Bogor dan membaca novel berlatar Bogor. Saya malah membayangkan Bogor jaman dulu, seperti alur cerita ini. Bogor yang masih banyak pohon, kabut dan ah ya tentu saja begitu lembab. Dalam kotak kendaraan ini juga dingin, tapi itu disebabkan AC, diluar juga hujan, tapi banyak sekali kendaraan dan macet *bisa dibayangkan udara apa yang kita hirup*
Setelah menyadari betapa lamanya saya tertunduk, sambil tertawa kecil, menahan sesak dan terheran. Saya melongo ke kaca jendela, sudah malam rupanya. Gelap. dan ini dimana? Serentak bayangan bogor nan asri dan lembab laksana hutan hujan itu sirna. Hey, this real Bogor! Jalan raya, macet, cahaya lampu dan ah hujan... :') Tapi saya tetap tidak ingat ini udah sampai mana T-T Sampai pada akhirnya saya mencari-cari plang bangunan, dan memasang telinga untuk mendengarkan abang-abang kondektur berteriak-teriak meneriaki tempat tujuan akhir. Sebentar lagi turun rupanya..
Setelah mengucap salam perpisahan kepada seorang adik kelas yang kalau ketemu ndak pernah nyapa atau senyum dan saya juga jadi males buat nyapanya. Tapi pada akhirnya saya berhasil melancarkan misi untuk menegurnya walapun cuma pamitan XD wkwk
Turun kendaraan dengan perasaan senang, sambil tiba-tiba terputar lagu Aishiteru-nya Momaji.
Nyebrang jalan dengan bahagia, lalu.. saya tidak menemukan ojek. Lihat baterai sekarat, coba nelpon gak ada yang nyambung dan eng ing eng... baterai hp kosong melompong, tapi lagu masih nyala. Beberapa menit akhirnya saya memutuskan untuk jalan kaki, sedikit was-was dan takut.
Seketika kaki langsung dingin, jalanan jadi berkabut. Saya putar lagi musik di hp. Jalanan sepi sekali, kanan-kiri cuma kebun tanpa lampu ._. ah bukannya dulu pernah biasa seperti ini..
Lalu, beberapa rumah terlewati, tapi lebih banyak kebun dan jalan terjal kebawah. Licin, sehabis hujan, komat-kamit dalam hati, semoga ndak kepeleset. Rumah-rumah besar banyak yang kosong, atau pemiliknya belum pulang. Beberapa motor lewat, dan pasti ini bukan tukang ojek. Dan akhirnya yatta~ Saya sudah dekat dengan rumah berpagar hitam didepan tower. Membuka pintu pagar, lalu splash... masuk mengucap salam sambil bilang "Jalan kaki bu.."
Okey, ini malam yang panjang :v
Tapi akhirnya saya bisa pulang kerumah haha..
Lalu saya tepar.. masih banyak agenda yang harus dijadwalkan dan dipertimbangkan. Hampir setiap sore agenda rapat menunggu. Banyak sekali rupanya. Lalu saya hampir lupa harus menyiapkan KKL ke Malaysia. Males sebenernya, tapi apa boleh buat. Untuk background orang yang terjadwal, memikirkan hari esok sepertinya selalu membikin was-was haha
Selamat rehat :D