Sebetulnya sesiang tadi saya mengirim satu pesan singkat. Antara sedang bosan, gelisah, khawatir dan ingin masa bodo sama hari senin besok. Rasanya ketika saya bertemu minggu, hari-hari tidak lagi seindah minggu pagi yang ramai orang-orang berolahraga, langit yang biru, atau acara televisi yang banyak menayangkan kartun.
Hari minggu adalah hari ekstra, dimana cuma ada 12 jam untuk memutuskan harus pergi ke Jakarta atau menunggu esok pagi dengan segala konsekuensi kemacetan. Ditambah lagi, mata kuliah pada hari senin yang sekarang menuntut deadline Judul, isi bahan skripsi yang tentunya berbahasa arab. Saya mahasiswi bahasa arab dan saya tidak merasa mengerti apapun dan waktu saya dikampus -dengan keinginan saya dan keinginan banya orang- hanya tersisa satu tahun saja.
Iya, tadi siang akhirnya saya tertidur. Setelah beberapa hari terakhir ini saya tidur dini hari, entah mengerjakan apa. Memikirkan apa, dan semuanya terasa : Buntu.
dan sudah lama sekali saya tidak tertidur dengan rasa sangat mengantuk, dan yang saya dapati saya bermimpi kamu. Bukan mimpi-mimpi yang menyakitkan, tapi ... semacam saya bisa terus menggapaimu setiap waktu, seperti ada kedekatan yang lain *uhuk
Tiba-tiba setelah itu ada banyak hal yang menggelayuti saya. Perihal seseorang dan ingatan saya tentang sebuah tulisan saya berjudul : Koneksi. Ah sudah lama bukan? Tapi saya menjadi ingat lagi, dengan kadidat yang pernah saya masukkan kedalam cerita imajinasi saya. Semoga cuma selalu menjadi imajinasi.
Hey, saya pingin benar-benar baik-baik saja menata masa depan ...
Sebenarnya kamu hanya sulit mengungkapkan alasan-alasan itu,
yang mungkin sederhana tapi dijadikan rumit
yah, sama halnya ketika kamu mengatakan sesuatu kepada seseorang
dan kamu tidak bisa memberikan alasan. Semacam, mengungkapkan argumen tanpa bisa menjelaskan
#new new project : a Reason
Selamat pagi, ini kesekian kalinya saya menikmati perjalanan pagi hari. Masih gelap, masih punya cerita yang diawali jingga diufuk timur.
Sungguh pemandangan langit yang selalu menakjubkan, goresan merah muda, kuning, jingga dan biru. Melebur satu menjadi segaris warna yang sempurna.
Pagi pun selalu meninggalkan jejak malam. Bulatan rembulan atau kerlip bintang terakhir. Lalu, mereka sering membuatku tersenyum takjub, duduk dibelakang seorang laki-laki wibawa penuh kasih sayang.
Setiap pagi, yang sekarang masih setia menemani bangun dini hari, dan berlari menuju masjid. Rutinitas yang sekarang menjadi sangat luar biasa, ketimbang ketika ia lelah, ia ketinggalan shalat jamaah di masjid.
Lalu, ia menunggu waktu ketika saya lama berkutat depan cermin. Menyalakan mesin dan dalam diamnya mulai terburu-buru menuju tempat menunggu.
Ada kekhawatiran yang menggelayut di benaknya, persis seperti nenekku yang slalu menunjukkan kekhawatiran pada cucu-cucunya.
Kemudian laki-laki itu menikmati perpisahan, suatu kehormatan anak pada ayahnya. Tak pernah tak bertanya, perihal menunggu bersama-sama atau uang saku yang cukup.
Ia diam ditempatnya, menatap jauh putrinya. Ia ingin melihat putrinya pergi dengan selamat. Tidak mengeluh ataupun kecewa pada jam tunggu, mengamatinya dari kejauhan... Laki-laki setia, pada pagi yang masih buta.
/perjalanan suatu pagi, 2014